<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>RoemahDjingga.com</title>
	<atom:link href="http://roemahdjingga.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://roemahdjingga.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 02 Jan 2010 00:21:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Bahasa Pers Era Reformasi Mirip Orde Lama</title>
		<link>http://roemahdjingga.com/2009/12/bahasa-pers-era-reformasi-mirip-orde-lama/html</link>
		<comments>http://roemahdjingga.com/2009/12/bahasa-pers-era-reformasi-mirip-orde-lama/html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 08:50:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RoemahDjingga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://roemahdjingga.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Medan (ANTARA News) &#8211; Penggunaan bahasa pers di era reformasi memiliki kesamaan dengan masa orde lama yang menampilkan bahasa yang berani, menantang serta menjurus keras dan kasar, ujar seorang pakar. &#8220;Mungkin perbedaannya adalah kepada subjek mana diarahkan bahasa yang berani dan menantang itu,&#8221; kata Ketua Himpunan Pembina Bahasa Indonesia Sumut Prof Dr Khairil Ansari, MPd di Medan, Senin. Hal itu dikatakannya pada sarasehan Bahasa Indonesia dalam memperingati HUT ke-63 Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) Sumut. Ia mengatakan, pada masa orde lama atau pada masa baru merdeka, arah keberanian dan kelantangan itu lebih ditujukan kepada bangsa penjajah dan antek-anteknya. &#8220;Lihatlah keberanian para demostran kita pada masa itu terhadap para penjajah dan negara yang ikut menjajah negeri ini. Dengan lantang mereka berani mengeluarkan ungkapan-ungkapan seperti `Amerika kita seterika`, `Inggris kita linggis` dan `Malaysia kita ganyang`,&#8221; katanya. Menurut dia, sejak awal reformasi hingga kini masih terlihat keberanian dan kelantangan serta penggunaan kata-kata yang menjurus keras dan kasar itu. Akan tetapi, jelasnya, subjeknya sekarang adalah pihak penguasa dan yang terkait dengan kekuasaan. &#8220;Era reformasi membawa masyarakat Indonesia lebih terbuka dan berani mengungkapkan pendapatnya. Konsekuensinya, pers juga turut dalam suasana itu,&#8221; ujar Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Unimed itu.(Ant)]]></description>
		<wfw:commentRss>http://roemahdjingga.com/2009/12/bahasa-pers-era-reformasi-mirip-orde-lama/html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Periklanan Seharusnya Hanya Gunakan Bahasa Indonesia</title>
		<link>http://roemahdjingga.com/2009/12/periklanan-seharusnya-hanya-gunakan-bahasa-indonesia/html</link>
		<comments>http://roemahdjingga.com/2009/12/periklanan-seharusnya-hanya-gunakan-bahasa-indonesia/html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 07:43:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RoemahDjingga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://roemahdjingga.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Medan (ANTARA News) &#8211; Perusahaan periklanan dan media harus mengutamakan pemakaian Bahasa Indonesia dibandingkan bahasa asing dalam berbagai iklan, guna tingkatkan disiplin berbahasa Indonesia. Kita harus taati disiplin gerakan berbahasa Indonesia, antara lain mengutamakan bahasa itu dalam periklanan,&#8221;kata pakar Bahasa Indonesia, Shafwan Hadi Umry, pada sarasehan &#8220;Pers Nasional Penjaga Taman Bahasa Indonesia&#8221;, di Medan, Senin. Ia menjelaskan, iklan berfungsi membentuk pola pikiran masyarakat mengenai suatu gagasan, untuk itu, berbagai gagasan itu harus diutamakan dalam Bahasa Indonesia, karena bahasa itu juga merupakan identitas bangsa. Bila tidak terdapat padanan kata asing di Bahasa Indonesia,katanya, maka kosakata itu dapat dipakai setelah pencantuman Bahasa Indonesia. Shafwan menyayangkan, terdapat banyak papan iklan di sejumlah lokasi di Medan, memakai bahasa asing sebagai penyampai informasi utama, padahal yang banyak melihat iklan itu merupakan warga Indonesia. &#8220;Peraturan pemakaian bahasa asing di tempat umum telah diatur sehingga harus kita jalankan,&#8221;kata mantan Ketua Balai Bahasa Medan itu. Dia mengemukakan, pemerintah daerah perlu melakukan penertiban terhadap pemasangan iklan yang menggunakan bahasa asing. Instruksi Mendagri nomor 20 tahun 1991 dan 18 April 1996 mengajak seluruh bupati dan wali kota seluruh Indonesia untuk melaksanakan Gerakan Penertiban Pengguanaan Bahasa Asing.(Ant)]]></description>
		<wfw:commentRss>http://roemahdjingga.com/2009/12/periklanan-seharusnya-hanya-gunakan-bahasa-indonesia/html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa Media Semakin Memprihatinkan</title>
		<link>http://roemahdjingga.com/2009/12/bahasa-media-semakin-memprihatinkan/html</link>
		<comments>http://roemahdjingga.com/2009/12/bahasa-media-semakin-memprihatinkan/html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 06:10:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>RoemahDjingga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://roemahdjingga.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Medan (ANTARA News) &#8211; Penggunaan bahasa di berbagai media saat ini semakin memprihatinkan bahkan informasi yang disampaikan tidak jelas serta memicu penggunaan bahasa Indonesia secara tidak tepat. Ketua Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) Sumatera Utara, Zaki Abdulllah pada acara Sarasehan Pers Nasional Penjaga Taman Bahasa di Medan, Senin, mengatakan, salah satu faktor tidak tepatnya penggunaan bahasa Indonesia disebabkan oleh media massa. &#8220;Wafat, gugur, dan mampus sama artinya, tetapi kalau kita mengabarkan kepada sahabat tentang orang yang dihormati telah tiada bahwa dia mampus kemarin, itu sama artinya kita berbahasa secara biadab,&#8221; katanya. Ia juga mengkritisi berita kriminal yang tidak tepat menggunakan bahasa, misalnya menyebutkan perampok berhasil atau pemerkosa berhasil. &#8220;Mengapa penjahat yang dikatakan berhasil, apakah kita berada di pihak penjahat itu, kenapa bukan polisinya yang dinyatakan berhasil,&#8221; ucapnya. Dalam kesempatan yang sama Ketua Himpunan Pembina Bahasa Indonesia Sumut, Khairil Ansari, mengatakan, menggunakan bahasa santun oleh media akan mendidik masyarakat dalam berbahasa. &#8220;Bahasa yang digunakan pers adalah bahasa tulis bukan bahasa sehari-hari yang digunakan di warung kopi, pasar, dan tempat tidak resmi. Misalnya kata ditalangin, dibikin, diembat dan sudah kelar,&#8221; katanya. Dia mengingatkan fungsi utama pers dapat dirumuskan ke dalam lima bagian yakni, sebagai informasi, edukasi, koreksi, rekreasi, dan sebagai mediasi. Peran [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://roemahdjingga.com/2009/12/bahasa-media-semakin-memprihatinkan/html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
